Perbedaan adalah warna dalam kehidupan di Dunia ini yang
berfungsi diantaranya sebagai salah satu ujian yang ada pada kehidupan
sebagaimana Allah Subhanahu Wata’la berfirman:
الَذِيْ خَلَق الْموْتَ
وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا (الملك – ٢)
“ (Allah)
yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji (siapa diantara) kalian
yang paling baik perbuatannya “ (Al-Mulk – 2).
Perbedaan ada bermacam-macam
bentuknya, seperti; berbeda agama, berbeda keyakinan, berbeda adat, berbeda
pendapat dan pemikiran. Tidak semua perbedaan adalah ujian ada diantara yang
berupa Rohmah (bentuk kasih sayang syariat islam bagi pemeluknya
untuk mempermudah dalam menjalankan kehidupan) sebagaimana Rasulullah Shollallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِخْتِلَافُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ
(رواه البيقي)
“
Perbedaan (pendapat Ulama’ dalam beberapa hukum) Ummatku adalah Rahmat “
Dan yang akan kita bahasa dalam
tulisan ini adalah perbedaan pendapat atau pemikiran. Perbedaan pendapat
terjadi karena beberapa sebab seperti; Rasulullah menyampaikan Hadits yang
berbeda dalam satu masalah dikarenakan Rasulullah melihat keadaan orang yang
bertanya atau keadaan tempat dan waktu (situasi kondisi) disaat Rasulullah
menyampaikan Hadits. Maka dari situ para Ulama’-pun berbeda pendapat karena
Hadits yang mereka terima dan mereka sampaikan berbeda menyesuaikan situasi kondisi.
Oleh karenanya betapa pentingnya peran seorang guru, dan betapa pentingnya
orang tua memilihkan guru maupun tempat pendidikan yang sesuai bagi anaknya karena
hal tersebut akan berpengaruh kepada karakter anak.
Perbedaan
pendapat dalam Hukum Syar’i biasanya terdapat pada hal-hal Ibadah
Sunnah, Hukum Cabang (bukan pokok seperti solat 5 waktu), cara melakukan suatu
ibadah, atau berada pada keseharian suatu masyarakat muslim ditempat tertentu. Tidak
jarang kita menemukan perbedaan pendapat seseorang maupun cara berpikir/pandangannya,
yang biasanya karena dipengaruhi pendapat gurunya, dan hal tersebut sekali lagi
bisa mempengaruhi karakter seseorang, karena tidak salah jika seorang murid
berpegang dan mengikuti pendapat gurunya.
Karakter
seseorang biasanya dipengaruhi oleh: 1) Orang Tua; oleh karena itu para ulama
sangat menjaga akan memilih siapa calon orang tua bagi anaknya, karena orang
tua terutama ibu akan sangat mempengaruhi karakter (cara berpikir, pandangan
dan berpendapat) seorang anak[1].
2) Lingkungan; pengaruh lingkungan (tetangga, teman[2])
akan saat membentuk karakter anak-anak di masa pembelajaran (MI, MTs, MA,
Pesantren). 3) Guru; dalam hal ini pendapat seseorang, cara berpikir atau
memandang sesuatu sangat dipengaruhi, karena ilmu/pengetahuan bersumber dari
apa yang disampaikan gurunya, maka pendapat guru sangat berperan besar akan bagaimana
seseorang memutuskan atau mengikuti pendapat akan sesuatu, dalam hal ini para
ulama’ salaf selalu mengingatkan kita agar berhati-hati untuk memilih guru bagi
putra-putri kita, karena bisa jadi mereka akan bersebrangan dengan kita atau
jalan Rasulullah disebabkan pendapat gurunya[3].
Dan
jika kita mendapatkan adanya perbedaan pendapat dengan kita, maka terlebih
dahulu kita kenali dalam hal apa perbedaan tersebut, jika dalam hal yang
biasanya berbeda (seperti yang sebelumnya sudah disebut) dan bukan Hukum Pokok
(seperti Solat 5 waktu) maka biarkan saja, atau jika Hukum itu memang bukan
pokok tapi berkaitan dengan kehidupan sosial tapi bisa mempengaruhi
kemaslahatan Rakyat atau Islam maka kita harus menjelaskan pendapat yang lebih
cocok dan lebih benar dengan beberapa alasan Rasio dan Dalil.
Dan ingat kewajiban kita hanya
menyampaikan bukan merubah pendapat atau cara berpikir seseorang terlebih jika
bisa menimbulkan perpecahan Wal’iyaadzubillah, sebagaimana Allah
berfirman:
وَمَا عَلَيْنَا عَلَيْنَا إَلَّا الْبَلَاغُ
الْمُبِيْنُ (يس – ١٧)
Dari ayat tersebut menghasilkan
sebuah pemahaman bahwa kewajiban kita hanya menyampaikan yang menurut kita
yakin benar dan harus disampaikan demi kemaslahatan bersama dan bukan untuk
merubah seseorang, karena yang bisa merubah seseorang hanya Allah Subhanahu
Wata’ala Hidayah berada pada kekuasaan dan kehendakannya, sedangkan kita
hanya perantara saja. Dan dalam menyampaikan pendapat jangan sampai kita merasa
paling benar dan menyampaikan dengan Hawa Nafsu (emosi) bukan Ikhlas karena Allah,
sehingga ketika pendapat kita tidak diterima kita tidak marah atau benci,
karena kita hanya berusaha peduli dan mengingatkan sebagai kewajiban saudara
sesama muslim.
[1]
Lebih detailnya silahkan bisa dibaca
dalam buku “Anakku Investasi Akhiratku” Karya: Dr. Habib Segaf bin Hasan
Baharun, M.H.I (Rektor IAI DALWA dan Pengasuh Ponpes. Putri DALWA – Bangil Pasuruan
Jatim)
[2]
Bahkan pengaruh ini juga besar dan
berpengaruh juga pada keberhasilan seorang siswa atau santri, sebagaimana Imam
Syafii berkata dalam syairnya:
عَنِ الْمَرْءِ لَاتَسْأَلْ فَاسْألْ قَرِيْنَهُ #
فَإِنَّ الْقَرِيْنَ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِى
“jika kita tau tentang
seseorang tidak perlu bertanya langsung padanya # cukup lihat siapa temannya
karena seseorang tidak akan jauh beda dengan temannya”
[3]
Bahkan sampai
ada kata-kata
لَوْلَ الْمُرَبِّيْ مَاعَرَفْتُ رَبِّيْ
“kalau bukan karena guru aku
tidak akan tahu tuhanku”
Lihat bagaimana pengatahuan tentang tuhan saja disandarkan kepada guru
0 Komentar